Postingan

Menampilkan postingan dengan label #thuglife

Hidup

Mungkin ini pembelaan bisa juga alibi. Jangan terlalu serius, aku hanya ingin mengisi blogku yang sebulan lebih sepuluh hari tak terjamah. Hidup adalah tentang kenyamanan, yang kulakukan, yang kutuju adalah kenyamanan. Jika sesuatu itu membuatku nyaman maka, niscaya akan kulakukan dan kutuju. Jika tak sesuai dengan konstruksi ideal mata-mata penghakim, apa boleh buat, toh inilah yang membuatku nyaman. Aku tak ingin berikrar, tapi hanya ingin bercerita tanpa bermaksud mencari pembenaran. Pernah tak terbiasa, pernah mencoba terbiasa, pada akhirnya tak terbiasa. Sederhana, kupahami hidup sebatas seberapa kecil aku berbuat salah. Tuhan hadir di balik kebaikan-kebaikan hambanya. Iblis ada di balik keburukan-keburukan. Bisa   jadi itu salah, bisa pula itu benar, satu yang pasti ada kenyamanan dalam kesederhanaan tersebut. Dahulu, jika aku menginginkan sesuatu akan kupuja Ia dengan rapalan doa. Kini, cukup sederhana, apa yang kutabur, itu yang kutuai. Sekecil apapun keb...

Anu

Namanya Anu, Ia tak lagi mencari Kini, ia telah menemukan jawaban dari setiap pertanyaannya Kepada gurunya ia bersandar Jika gurunya bilang A, maka ia akan bilang A Ia murid penurut, sungguh murid penurut Baginya, gurunya adalah yang terbaik, dan Ia adalah kedua yang terbaik Yang lain tak lebih baik, “bodoh” katanya. “Harus begini, seharusnya begitu,” kata Anu. Sepanjang hari ia berbicara hal-hal ideal menurutnya. Apa yang berbeda darinya, adalah bencana. “Bukan begitu, kata guruku,” ngototnya. Saban hari ia menunjukan betapa ia tahu segala hal Bicara hukum, ayo. Bicara ekonomi, hajar Bicara Agama, ok. Bicara sastra, boleh. Bicara sosial, kita duduk seharian. Bicara mahasiswa, sudah berapa buku yang kau baca? Bicara organisasi, saya yang paling tahu. Itulah Anu. Hanya satu yang ia tak ketahui: Ilmu padi.

Jangan Seperti Bapakmu

Gambar
Jangan seperti bapakmu, katanya. Pria tua di usia senja tersebut tak lagi asik Nasihatnya melulu soal hidup layak Kejar cita-citamu, katanya. jangan sampai hidup miskin, pesannya. Barangkali menjelang enam puluh tahun usianya Mimpinya makin suram Pernah suatu saat kutemani ia ke sawah Jangan seperti bapakmu, katanya. Tak hanya di sawah, nasihatnya berlanjut hingga di dapur. Jangan seperti bapakmu, katanya. Pria dengan rambut putih tersebut Menyimpan gundah dan sesal bukan main Bapakmu ini anak pensiunan, dulu hidup di kota Jaman dulu makannya nasi kaleng, ceritanya. Semenjak ibunya meninggal, Kian hari sesalnya bertumpuk Bersaing dengan lelahnya. Jangan seperti bapakmu, katanya.